📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Oleh: Arda Dinata
Agent tersebut hidup di dalam tubuh manusia dan nyamuk. Di sini, manusia sendiri sebagai host intermediate (inang sementara) dan nyamuk disebut host definitive (inang tetap). Sementara itu, faktor environment (lingkungan) adalah lingkungan di mana manusia dan nyamuk itu berada. Nyamuk ini dapat berkembangbiak dengan baik, bila lingkungannya sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan nyamuk.
PENYAKIT yang ditularkan nyamuk masih terus terjadi di wilayah Indonesia, seperti filariasis (kaki gajah), malaria, chikungunya, dan DBD. Pada dasarnya penyebaran penyakit itu ditularkan melalui faktor host, agent, dan environment. Syaratnya ketiga komponen itu saling mendukung. Terkait dengan penyakit ditularkan oleh nyamuk, yang menjadi host (inang) adalah manusia dan nyamuk. Sebagai agentnya adalah parasit (malaria), cacing filaria (kaki gajah), dan virus (DBD/chikungunya).
Agent tersebut hidup di dalam tubuh manusia dan nyamuk. Di sini, manusia sendiri sebagai host intermediate (inang sementara) dan nyamuk disebut host definitive (inang tetap). Sementara itu, faktor environment (lingkungan) adalah lingkungan di mana manusia dan nyamuk itu berada. Nyamuk ini dapat berkembangbiak dengan baik, bila lingkungannya sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan nyamuk.
Kita tahu, memasuki musim hujan banyak air tergenang. Misalnya, kolam yang terbengkalai dapat ditumbuhi oleh tanaman air, selanjutnya akan menjadi sarang jentik nyamuk untuk berkembangbiak. Dengan mengenal hubungan faktor yang berperan dalam penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk tersebut, maka setidaknya kita dapat melakukan usaha pemutusan rantai penularnya secara lebih terarah. Pemutusan rantai penularan penyakit akibat nyamuk ini melalui tiga langkah.
Pertama, menyembuhkan orang yang diketahui positif terhadap penularan. Bila tidak ada orang yang sakit, maka tidak mungkin terjadi penularan penyakit walaupun terdapat vektor (nyamuk) penularnya. Kedua, menghilangkan atau membunuh vektor nyamuk penular. Sebab, bila tidak ada vektor, maka tidak mungkin terjadi penularan di daerah tersebut walaupun terdapat orang sakit. Ketiga, menghilangkan tempat-tempat perindukan nyamuk. Bila tidak ada tempat perindukan, maka nyamuk tidak bisa berkembangbiak sehingga nyamuk itu akan hilang atau berkurang kepadatannya.
Atasi jentik nyamuk
Usaha pemberantasan nyamuk pada tempat perindukan dapat dilakukan melalui budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) dan mujair (Oreochromis mossambicus).
Ada beberapa alasan mengapa ikan nila dan mujair ini memiliki prospek yang positif dalam program pengendalian nyamuk (Anopheles dan Culex) di Indonesia. Yakni ikan-ikan tersebut dapat hidup di air tawar, payau, dan bahkan air laut. Bahkan, berbagai spesies nila mempunyai kemampuan memakan jentik nyamuk yang cukup tinggi, seperti kemampuan nila merah dalam mengendalikan populasi jentik nyamuk Anopheles di Sihepeng Tapanuli Selatan (Sugeng; 2003), serta ikan nila merah dan mujair di tambak udang Desa Sukaresik Kec. Pangandaran Kab. Ciamis (Depkes RI; 2002).
Apalagi menurut Lovell (1989), ikan nila dan mujair ini memiliki kebiasaan makan yang terus menerus. Jenis makanan yang disukai adalah plankton, fitoplankton (organisme pemakan tanaman yang melayang-layang di permukaan air), dan zooplankton (jasad renik).
Keistimewaan lain dari ikan nila dan mujair adalah memiliki tingkat pertumbuhan dan fekunditas (tingkat kesuburan untuk menghasilkan sejumlah telur) lebih tinggi, memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik, memungkinkan lebih toleran terhadap kisaran nilai salinitas (kadar garam) air yang tinggi, lebih tahan terhadap serangan penyakit, memiliki risiko kematian sangat kecil, belum terjangkit virus, dan harganya relatif terjangkau.
Ikan nila telah dipakai sebagai agen pengendalian jentik nyamuk vektor malaria di Cina, Somalia, dan Ethopia. Ternyata ikan tersebut dapat menurunkan populasi nyamuk terutama vektor malaria yang mempunyai tempat perindukan yang terbatas seperti kolam ikan dan reservoir air. Di daerah pantai Guangxi yang ada di Cina, terutama pada daerah perkampungan nelayan itu, penanggulangan nyamuk dengan menggunakan ikan pemakan jentik berhasil dengan baik, sebab rata-rata yang dijadikan tempat perindukan nyamuk adalah berupa penampungan air rumah tangga.
Sementara itu, di Somalia jenis ikan nila ini digunakan secara nasional untuk pengendalian nyamuk malaria di tempat perindukan. Sedangkan masyarakat Ethiopia memiliki kebiasaan memasukkan ikan di dalam tempat penampungan air yang disebut dengan brika, sehingga berdampak pada tidak ditemukan jentik nyamuk dan larva hewan lainnya (Sudomo, dkk; 1998).
Untuk konteks Indonesia sendiri, telah dilakukan penelitian di Sihepang Tapanuli Selatan dan Desa Sukaresik Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat, hasilnya membuktikan bahwa ikan nila dan mujair dapat menurunkan populasi larva Anopheles. Hal ini disebabkan karena media biaknya telah dikonsumsi ikan, tidak adanya jasad renik dan tanaman air akan menghalangi kehadiran jentik nyamuk. Dari sini, tentu akan berdampak positif terhadap semakin kecilnya kemungkinan terjadi kontak gigitan nyamuk dewasa dengan manusia, sehingga diharapkan dapat menekan kejadian penularan malaria.
Lebih jauh, manfaat ikan (nila dan mujair) ini, selain sebagai pengendali hayati terhadap jentik nyamuk, juga melalui budidaya ikan ini dapat meningkatkan pendapatan pengelola tambak. Sebab, usaha budidaya ikan ini jelas-jelas mempunyai nilai ekonomi. Misalnya, memberikan tambahan penghasilan bagi penduduk setempat dalam menggunakan pakan, apalagi ikan ini bersifat omnivora (pemakan hewan dan tumbuhan), dan mempunyai kemampuan memakan yang cukup tinggi. Sehingga tidak aneh dikalangan para peternak ikan ada ungkapan, “Sekali dikembangkan pada tempat yang cocok, populasinya akan berkembang sendiri secara terus menerus, biaya pemeliharaan relatif murah, tidak mencemari lingkungan, dan dapat dibudidayakan pada rawa-rawa yang memiliki banyak tanaman air.”
Jadi, melalui pemanfaatan tempat perindukan nyamuk sebagai lahan berternak ikan (nila dan mujair), maka dampaknya ikan menjadi kenyang, sementara jentik nyamuk hilang, sehingga nyamuk dewasanya menjadi berkurang kepadatannya dan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk pun jadi berkurang. Semoga!***
Arda Dinata, anggota Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).
Pertama, menyembuhkan orang yang diketahui positif terhadap penularan. Bila tidak ada orang yang sakit, maka tidak mungkin terjadi penularan penyakit walaupun terdapat vektor (nyamuk) penularnya. Kedua, menghilangkan atau membunuh vektor nyamuk penular. Sebab, bila tidak ada vektor, maka tidak mungkin terjadi penularan di daerah tersebut walaupun terdapat orang sakit. Ketiga, menghilangkan tempat-tempat perindukan nyamuk. Bila tidak ada tempat perindukan, maka nyamuk tidak bisa berkembangbiak sehingga nyamuk itu akan hilang atau berkurang kepadatannya.
Atasi jentik nyamuk
Usaha pemberantasan nyamuk pada tempat perindukan dapat dilakukan melalui budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) dan mujair (Oreochromis mossambicus).
Ada beberapa alasan mengapa ikan nila dan mujair ini memiliki prospek yang positif dalam program pengendalian nyamuk (Anopheles dan Culex) di Indonesia. Yakni ikan-ikan tersebut dapat hidup di air tawar, payau, dan bahkan air laut. Bahkan, berbagai spesies nila mempunyai kemampuan memakan jentik nyamuk yang cukup tinggi, seperti kemampuan nila merah dalam mengendalikan populasi jentik nyamuk Anopheles di Sihepeng Tapanuli Selatan (Sugeng; 2003), serta ikan nila merah dan mujair di tambak udang Desa Sukaresik Kec. Pangandaran Kab. Ciamis (Depkes RI; 2002).
Apalagi menurut Lovell (1989), ikan nila dan mujair ini memiliki kebiasaan makan yang terus menerus. Jenis makanan yang disukai adalah plankton, fitoplankton (organisme pemakan tanaman yang melayang-layang di permukaan air), dan zooplankton (jasad renik).
Keistimewaan lain dari ikan nila dan mujair adalah memiliki tingkat pertumbuhan dan fekunditas (tingkat kesuburan untuk menghasilkan sejumlah telur) lebih tinggi, memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik, memungkinkan lebih toleran terhadap kisaran nilai salinitas (kadar garam) air yang tinggi, lebih tahan terhadap serangan penyakit, memiliki risiko kematian sangat kecil, belum terjangkit virus, dan harganya relatif terjangkau.
Ikan nila telah dipakai sebagai agen pengendalian jentik nyamuk vektor malaria di Cina, Somalia, dan Ethopia. Ternyata ikan tersebut dapat menurunkan populasi nyamuk terutama vektor malaria yang mempunyai tempat perindukan yang terbatas seperti kolam ikan dan reservoir air. Di daerah pantai Guangxi yang ada di Cina, terutama pada daerah perkampungan nelayan itu, penanggulangan nyamuk dengan menggunakan ikan pemakan jentik berhasil dengan baik, sebab rata-rata yang dijadikan tempat perindukan nyamuk adalah berupa penampungan air rumah tangga.
Sementara itu, di Somalia jenis ikan nila ini digunakan secara nasional untuk pengendalian nyamuk malaria di tempat perindukan. Sedangkan masyarakat Ethiopia memiliki kebiasaan memasukkan ikan di dalam tempat penampungan air yang disebut dengan brika, sehingga berdampak pada tidak ditemukan jentik nyamuk dan larva hewan lainnya (Sudomo, dkk; 1998).
Untuk konteks Indonesia sendiri, telah dilakukan penelitian di Sihepang Tapanuli Selatan dan Desa Sukaresik Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat, hasilnya membuktikan bahwa ikan nila dan mujair dapat menurunkan populasi larva Anopheles. Hal ini disebabkan karena media biaknya telah dikonsumsi ikan, tidak adanya jasad renik dan tanaman air akan menghalangi kehadiran jentik nyamuk. Dari sini, tentu akan berdampak positif terhadap semakin kecilnya kemungkinan terjadi kontak gigitan nyamuk dewasa dengan manusia, sehingga diharapkan dapat menekan kejadian penularan malaria.
Lebih jauh, manfaat ikan (nila dan mujair) ini, selain sebagai pengendali hayati terhadap jentik nyamuk, juga melalui budidaya ikan ini dapat meningkatkan pendapatan pengelola tambak. Sebab, usaha budidaya ikan ini jelas-jelas mempunyai nilai ekonomi. Misalnya, memberikan tambahan penghasilan bagi penduduk setempat dalam menggunakan pakan, apalagi ikan ini bersifat omnivora (pemakan hewan dan tumbuhan), dan mempunyai kemampuan memakan yang cukup tinggi. Sehingga tidak aneh dikalangan para peternak ikan ada ungkapan, “Sekali dikembangkan pada tempat yang cocok, populasinya akan berkembang sendiri secara terus menerus, biaya pemeliharaan relatif murah, tidak mencemari lingkungan, dan dapat dibudidayakan pada rawa-rawa yang memiliki banyak tanaman air.”
Jadi, melalui pemanfaatan tempat perindukan nyamuk sebagai lahan berternak ikan (nila dan mujair), maka dampaknya ikan menjadi kenyang, sementara jentik nyamuk hilang, sehingga nyamuk dewasanya menjadi berkurang kepadatannya dan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk pun jadi berkurang. Semoga!***
Arda Dinata, anggota Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / BacaBlog Group:
HOME ·
WWW.ARDADINATA.COM ·
INSPIRASI ARDA DINATA ·
SANITARIAN ·
REFERENSI KESEHATAN LINGKUNGAN ·
PRODUKTIF MENULIS ·
MIQRA INDONESIA
2026
BUKU & NOVEL INSPIRATIF ONLINE
· Semua hak cipta dilindungi.
Desain Template Novel Blogger By. Arda Dinata
Desain Template Novel Blogger By. Arda Dinata