📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Buat "kesepakatan digital" bersama anak — bukan aturan sepihak dari orang tua, melainkan perjanjian bersama yang disepakati dua pihak. Tuliskan di kertas, tempelkan di kulkas.. (Sumber foto: Arda Dinata).
Oleh: Arda Dinata
FEATURE - Ada sebuah pemandangan yang terasa asing sekaligus mengharukan di hari-hari setelah Lebaran kemarin. Di sebuah beranda rumah di pinggiran kota Bandung, seorang nenek tua duduk di kursi rotan, tangannya menggenggam tangan cucunya yang berusia sepuluh tahun. Bukan karena keduanya sedang bercengkerama soal sekolah atau cita-cita. Bukan pula sedang menikmati ketupat opor yang tersisa. Sang nenek duduk diam, menatap cucu yang matanya terpaku pada layar gawai — jemari kecilnya menggeser-geser konten tanpa henti, sementara suara nenek yang mengajaknya bercerita menggantung di udara, tak terjawab.
Pemandangan itu bukan dongeng. Ia ada di mana-mana. Di meja makan, di karpet masjid setelah salat Id, bahkan di atas sajadah yang belum digulung.
Dan di tengah realitas itulah, sebuah kabar datang — kabar yang oleh sebagian orang disambut dengan desahan lega, oleh sebagian lain disambut protes. Mulai 28 Maret 2026, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital mengimplementasikan kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun, dengan tahap awal berupa penonaktifan akun pada sejumlah platform digital berisiko tinggi.
Layar itu — untuk sementara — dipadamkan.
Tapi pertanyaannya bukan soal apakah kebijakan ini benar atau salah. Pertanyaan yang jauh lebih dalam adalah: apa yang sesungguhnya kita rindukan dari anak-anak kita? Dan apakah kita — orang dewasa — sudah cukup hadir sebelum meminta teknologi untuk absen?
Saya ingin jujur. Ketika pertama membaca berita ini, pikiran saya tidak langsung melompat pada analisis hukum atau perdebatan kebebasan berekspresi. Yang muncul justru adalah wajah nenek tua itu tadi — dan jutaan wajah serupa yang kehabisan cara memanggil anak cucunya kembali ke meja makan, ke halaman rumah, ke dunia yang berbau tanah dan kasih sayang.
Kita sedang hidup di zaman yang aneh. Anak-anak kita tumbuh lebih cepat dari yang pernah kita bayangkan — bukan karena mereka lebih bijak, tapi karena mereka lebih awal terpapar pada dunia yang belum siap mereka pahami. Algoritma dirancang oleh para insinyur berbayar mahal untuk satu tujuan: membuat pengguna tidak bisa berhenti scroll (menggulir layar). Dan otak anak-anak, yang masih dalam tahap pembentukan, adalah mangsa paling empuk dari mesin ketagihan itu.
Sebuah kajian dalam jurnal JAMA Pediatrics (Twenge & Campbell, 2019) menemukan bahwa penggunaan media sosial lebih dari tiga jam sehari pada remaja berkorelasi signifikan dengan peningkatan risiko kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Sementara penelitian terbaru dari The Lancet Child & Adolescent Health (Viner et al., 2022) menegaskan bahwa paparan konten digital yang tidak terfilter berdampak pada pembentukan identitas diri anak, terutama terkait citra tubuh dan harga diri sosial.
Tapi angka-angka itu, sejujurnya, hanya mengkonfirmasi apa yang sudah dirasakan para orang tua di meja makan setiap malam.
1. Saat Sunyi Adalah Guru Terbaik
Khalwat dalam tradisi tasawuf bukan sekadar menyepi dari keramaian fisik. Ia adalah proses mengosongkan diri dari segala kegaduhan agar suara Tuhan bisa terdengar lebih jelas. Dan menariknya, para psikolog modern kini menemukan hal yang sama dalam bahasa sains: otak anak membutuhkan ruang kosong — unstructured time (waktu tanpa agenda) — untuk berkembang secara optimal.
Dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry (Lillard et al., 2013), peneliti menemukan bahwa free play (bermain bebas) tanpa layar secara langsung meningkatkan fungsi eksekutif otak anak, termasuk kemampuan mengatur emosi, memecahkan masalah, dan berempati.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Afala tatafakkarun" — "Apakah kamu tidak berpikir?" (QS. Al-Baqarah: 44). Pertanyaan ini bukan hanya ajakan intelektual. Ini adalah undangan untuk hening, untuk berhenti sejenak dari arus, dan membiarkan pikiran benar-benar bekerja. Dan bagaimana kita bisa mengajarkan itu kepada anak-anak, jika kita sendiri tidak pernah memberi mereka ruang untuk sunyi?
Ada sebuah kisah sederhana namun membekas. Suatu hari, Khalifah Umar bin Khattab melihat anak-anak kecil bermain di tanah lapang, berlari, berteriak, tertawa — tanpa mainan apapun. Alih-alih menghentikan mereka, Umar justru tersenyum dan berkata kepada sahabatnya, "Biarkan mereka. Jiwa yang bermain dengan tanah akan tumbuh lebih kuat dari jiwa yang hanya duduk diam." Kini, tanah lapang itu telah berganti menjadi layar yang dingin. Dan kita perlu bertanya: apakah jiwa anak-anak kita masih punya ruang untuk berlari?
Langkah nyata: Ciptakan satu jam "zona sunyi" di rumah setiap hari — tanpa gawai, tanpa televisi, tanpa suara digital. Isi dengan membaca bersama, berkebun, atau sekadar duduk di teras mendengarkan suara hujan.
2. Hadir Bukan Sekadar Ada
Kebijakan pemerintah menonaktifkan akun medsos anak adalah langkah baik — namun ia hanyalah plester (perban) pada luka yang lebih dalam. Luka itu bernama: ketidakhadiran orang tua yang sesungguhnya.
Dalam bahasa Sunda, ada ungkapan "aya tapi euweuh" — hadir secara fisik namun absen secara jiwa. Inilah paradoks terbesar keluarga di era digital: orang tua yang pulang kerja lalu langsung memegang gawai, anak yang duduk di sebelah namun berkomunikasi lewat pesan singkat. Dua manusia di ruang yang sama, namun berada di dua dunia yang berbeda.
Penelitian dari Harvard Graduate School of Education (Jensen, 2021) menunjukkan bahwa kualitas interaksi tatap muka antara orang tua dan anak — bukan hanya durasinya — adalah prediktor terkuat bagi kesehatan mental remaja. Bukan seberapa sering orang tua ada, melainkan seberapa sungguh mereka hadir.
Rasulullah SAW bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim). Kepemimpinan dalam keluarga bukan soal memberi nafkah saja. Ia adalah soal hadir — benar-benar hadir — dalam tumbuh kembang anak. Sebuah pertanggungjawaban yang tidak bisa didelegasikan kepada algoritma manapun.
Langkah nyata: Setiap malam, luangkan minimal 15 menit berbicara dari hati ke hati dengan anak — tanpa agenda, tanpa evaluasi, hanya mendengarkan. Matikan notifikasi gawai Anda selama waktu itu. Percayalah, 15 menit kehadiran sejati lebih berbobot dari 3 jam duduk berdampingan sambil menatap layar masing-masing.
3. Mendidik Rasa Sebelum Mendidik Pikiran
Kita terlalu lama mendidik anak untuk pintar — padahal yang lebih mendesak adalah mendidik mereka untuk berasa. Bisa merasakan kesedihan orang lain. Bisa merasa cukup. Bisa merasa bersyukur tanpa butuh validasi like (suka) dari orang asing.
Media sosial — dalam desain aslinya — adalah mesin penguat emosi negatif. Konten yang paling banyak disebarkan adalah yang paling memicu amarah, kecemburuan, atau rasa takut. Otak anak yang masih lunak itu, jika terus-menerus disuapi konten semacam itu, akan membentuk peta dunia yang bengkok: dunia adalah tempat yang berbahaya, semua orang sedang pamer, dan saya tidak pernah cukup.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Tuhfatul Mawdud menulis dengan indah: "Barangsiapa yang tidak mendidik anaknya tentang apa yang bermanfaat baginya, lalu membiarkannya tersia-sia, maka ia telah berlaku buruk kepadanya." Di era digital, "membiarkan tersia-sia" bisa berarti membiarkan algoritma yang mendidik anak kita — sesuatu yang sama sekali tidak mengenal kasih sayang.
Riset dari Pediatrics (Coyne et al., 2020) menggarisbawahi bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan tradisi bercerita — storytelling (bertutur) bersama, membaca buku nyaring, mendiskusikan perasaan — memiliki kecerdasan emosional yang jauh lebih tinggi dibanding anak-anak yang dominan terpapar layar.
Langkah nyata: Kembalikan tradisi bercerita sebelum tidur. Tidak harus dongeng panjang — cukup satu kisah pendek tentang keberanian, keikhlasan, atau kebaikan. Dari kisah Abu Bakar yang menyedekahkan seluruh hartanya, hingga kisah seorang tukang kebun yang setiap hari menyiram pohon orang lain tanpa pamrih. Rasa itu akan menghunjam jauh lebih dalam dari konten viral manapun.
4. Teknologi Adalah Kuda, Bukan Penunggang
Inilah prinsip yang sering kita lupakan: teknologi adalah alat, bukan tuan. Ia adalah kuda yang harus kita tunggangi, bukan kuda yang menentukan ke mana kita pergi. Kebijakan pembatasan medsos bagi anak bukan berarti kita anti-teknologi — ini adalah upaya mengembalikan kendali ke tangan yang semestinya: tangan manusia, tangan orang tua, tangan nilai-nilai.
Pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah konkret untuk memastikan masa depan anak-anak tumbuh sehat di era teknologi, dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pelopor negara non-Barat yang mengambil langkah tegas dalam perlindungan anak di ruang digital. Langkah ini patut diapresiasi — namun ia akan sia-sia jika di rumah, orang tua tidak memberikan alternatif yang lebih hidup dan lebih hangat dari sekadar menonaktifkan akun.
"Khayrul umuri awsatuha" — sebaik-baik urusan adalah yang pertengahannya. Pepatah Arab ini relevan sekali: bukan larang total teknologi, bukan pula biarkan bebas tanpa batas. Yang kita butuhkan adalah keseimbangan yang dibangun di atas kesadaran, bukan sekadar regulasi.
Sebuah penelitian dalam Computers in Human Behavior (Lissak, 2018) menemukan bahwa pendekatan balanced media use (penggunaan media yang seimbang) — di mana anak diajarkan kapan, mengapa, dan bagaimana menggunakan teknologi — jauh lebih efektif dalam jangka panjang dibandingkan larangan total yang sering kali justru memicu rasa penasaran berlebih.
Langkah nyata: Buat "kesepakatan digital" bersama anak — bukan aturan sepihak dari orang tua, melainkan perjanjian bersama yang disepakati dua pihak. Tuliskan di kertas, tempelkan di kulkas. Isinya: jam bebas gawai, jenis konten yang boleh dikonsumsi, dan konsekuensi yang dipilih bersama jika melanggar. Saat anak terlibat dalam membuat aturan, mereka jauh lebih patuh — karena mereka merasa dihormati, bukan dikontrol.
Kita semua sedang belajar menjadi manusia di zaman yang berubah terlalu cepat. Tidak ada orang tua yang sempurna. Tidak ada kebijakan yang tanpa celah. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah usang — satu hal yang bahkan algoritma paling canggih pun tidak bisa meniru: kehadiran yang tulus, sentuhan yang hangat, dan tatapan mata yang berkata "kamu penting bagimu".
Layar itu dipadamkan bukan untuk menghukum. Ia dipadamkan agar kita ingat — bahwa di balik cahayanya yang membutakan, masih ada dunia nyata yang menunggu: dunia yang berbau tanah sehabis hujan, berbunyi tawa di halaman, berasa hangat di pelukan.
Maka sebelum kita menuntut anak meletakkan gawainya — sudahkah kita lebih dulu meletakkan milik kita?
Dan di sinilah pertanyaan yang sesungguhnya menggantung — belum terjawab, dan mungkin tidak akan pernah cukup dijawab hanya dengan satu kebijakan atau satu tulisan: Jika kita berhasil merebut anak-anak kita dari layar — dunia apa yang siap kita hadirkan untuk mereka?
Bagaimana menurut Anda? Apakah kebijakan penonaktifan akun medsos anak ini cukup efektif, atau justru kita butuh revolusi yang lebih dalam — revolusi dalam cara kita hadir sebagai orang tua? Tuliskan pendapat Anda di kolom komentar. Saya yakin, perspektif Anda jauh lebih berharga dari sekadar debat kebijakan. Mari kita diskusikan bersama! 🌿
Daftar Pustaka
Coyne, S. M., Stockdale, L., & Summers, K. (2020). Problematic cell phone use, depression, anxiety, and self-regulation: evidence from a three-year longitudinal study from adolescence to emerging adulthood. Computers in Human Behavior, 96, 78–84.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. (2016). Tuhfatul Mawdud bi Ahkamil Mawlud (Terj. Fauzi Bahreisy). Pustaka Azzam.
Jensen, F. E. (2021). The Teenage Brain: A Neuroscientist's Survival Guide to Raising Adolescents and Young Adults. Harper Paperbacks.
Lillard, A. S., Lerner, M. D., Hopkins, E. J., Dore, R. A., Smith, E. D., & Palmquist, C. M. (2013). The impact of pretend play on children's development: A review of the evidence. Psychological Bulletin, 139(1), 1–34.
Lissak, G. (2018). Adverse physiological and psychological effects of screen time on children and adolescents: Literature review and case study. Environmental Research, 164, 149–157.
Pemerintah Republik Indonesia. (2026). Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak. Kementerian Komunikasi dan Digital RI.
Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2019). Media use is linked to lower psychological well-being: Evidence from three datasets. Psychiatric Quarterly, 90(2), 311–331.
Viner, R., Davie, M., & Firth, A. (2022). The health impacts of screen time: A guide for clinicians and parents. The Lancet Child & Adolescent Health, 6(4), 229–234.
Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.
Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.





