📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Rindu yang tidak diungkapkan bukan tanda keikhlasan — ia adalah beban yang perlahan menggerogoti kesehatan jiwa kita dan merampas kebahagiaan orang yang kita cintai dari hak untuk merasa dicintai. (Sumber foto: Arda Dinata).
Oleh: Arda Dinata
FEATURE - Di atas meja belajar saya, ada sebuah kebiasaan lama yang belum pernah saya ceritakan kepada siapapun.
Setiap kali rindu kepada seseorang — kepada ayah yang sudah berpulang, kepada sahabat lama yang kini terpisah ribuan kilometer, atau kepada masa-masa sederhana yang tidak akan pernah kembali — saya membuka buku tulis usang bersampul cokelat, lalu menulis. Bukan untuk dibaca orang lain. Bukan untuk dikirim. Hanya untuk menulis — seolah ada seseorang di balik halaman itu yang mendengarkan.
Surat-surat itu tidak pernah sampai ke tangan siapapun.
Dan bertahun-tahun kemudian, ketika saya menemukan penelitian dari Psychological Science yang menyatakan bahwa manusia secara konsisten meremehkan betapa bermakna dan betapa dinantikannya sebuah pesan yang tulus oleh si penerima (Kumar & Epley, 2018), saya menyadari sesuatu yang getir: selama ini, rindu-rindu itu sebenarnya bisa saya kirim. Tapi saya tidak mengirimnya. Karena satu hal yang paling manusiawi sekaligus paling merugikan: rasa takut.
Takut dianggap berlebihan. Takut tidak dibalas. Takut menjadi beban. Takut terlihat lemah.
Dan di sinilah saya ingin mengajak Anda berdialog batin — bukan soal teknik komunikasi, bukan soal tips dan trik ala self-help (pengembangan diri) yang mudah dilupakan. Tapi soal sesuatu yang lebih dalam: mengapa kita, bangsa yang begitu kaya tradisi lisan, bangsa yang mengenal unggah-ungguh (tata krama tutur Jawa) dan siloka (bahasa kiasan Sunda yang puitis), justru menjadi begitu mahir memendam?
Ini bukan masalah sepele. Di Amerika Serikat, sekitar satu dari tiga orang dewasa melaporkan merasa kesepian. Pada awal 2024, Asosiasi Psikiatri Amerika menemukan bahwa 30 persen orang dewasa merasa kesepian setidaknya seminggu sekali, dan 10 persen merasa kesepian setiap hari. Yang lebih mengkhawatirkan, kelompok dewasa muda usia 18–34 tahun justru paling rentan.
Dan fenomena ini bukan milik Amerika saja. Ia adalah wajah dunia modern — termasuk kita di sini, di Indonesia, yang katanya bangsa yang hangat dan ramah, tapi diam-diam memendam ribuan rindu yang tak pernah terucap.
Seorang psikolog klinis, Dr. Rush, mengamati bahwa banyak pasiennya tidak pernah menggunakan kata "kesepian" secara langsung. Mereka hanya "berbicara di sekitar perasaan itu" — memberikan contoh-contoh bagaimana mereka merasa terisolasi. Dan menurutnya, salah satu akar masalahnya adalah kebiasaan yang terbentuk sejak pandemi: pesan bawah sadar bahwa "menyendiri itu aman." Kebiasaan itu kini sudah menjadi mekanisme pertahanan yang sangat sulit dipatahkan.
Tapi jauh sebelum pandemi, jauh sebelum era scrolling (menggulir layar) tanpa henti — kita memang sudah punya warisan budaya memendam. Nrimo ing pandum (nrimo dalam bahasa Jawa: menerima dengan pasrah) kadang disalahartikan sebagai anjuran untuk tidak mengungkapkan perasaan. Sabar sering dimaknai sebagai diam. Ikhlas sering digunakan sebagai tameng untuk tidak mengatakan bahwa kita rindu, kita butuh, kita terluka.
Padahal, Tuhan yang menciptakan hati tidak pernah memerintahkan kita untuk mengunci pintunya.
1. Rindu yang Memendam Diri Adalah Racun yang Bekerja Perlahan
Ada sebuah pagi yang tidak akan pernah saya lupakan. Seorang kenalan — seorang guru SD di sebuah kecamatan kecil di Garut — bercerita kepada saya dengan mata yang tidak berani menatap langsung. Ia bilang, sudah tiga tahun ia tidak menelepon ibunya yang tinggal di Tasikmalaya. Bukan karena tidak rindu. Justru karena terlalu rindu — sampai setiap kali ia hampir menelepon, ada suara dalam kepalanya yang berbisik: "Nanti ibu tanya macam-macam, nanti aku malah nangis, nanti jadi ribet."
Tiga tahun. Ibunya masih hidup. Jaraknya hanya dua jam perjalanan.
Inilah yang oleh para ilmuwan disebut sebagai emotional suppression (penekanan emosi) — bukan diam karena kedamaian, melainkan diam karena takut. Dan harganya sangat mahal. Penelitian dalam bidang neurosains afektif menemukan bahwa kesepian yang dialami akibat isolasi emosional berkaitan dengan peningkatan peradangan dalam tubuh dan perubahan neural yang membuat seseorang semakin sensitif terhadap ancaman sosial — yang ironisnya justru membuat mereka semakin enggan membuka diri. Sebuah lingkaran setan yang mengerikan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin menulis dengan sangat tajam: "Al-lisanu tarjumanul qalbi" — "Lidah adalah juru bicara hati." Ketika lidah dikunci dan hati dibiarkan bicara sendiri tanpa disalurkan, yang terjadi bukan ketenangan. Yang terjadi adalah kegaduhan batin yang menggerogoti dari dalam.
Allah SWT berfirman: "Wa la taqfuu maa laisa laka bihi 'ilm" — "Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui." (QS. Al-Isra': 36). Kita sering menahan rindu karena asumsi — asumsi bahwa perasaan kita tidak dibutuhkan, bahwa orang yang kita rindukan tidak peduli, bahwa mengungkapkan itu tanda kelemahan. Padahal semua itu hanya perkiraan yang belum pernah kita uji.
Langkah nyata: Identifikasi satu perasaan rindu yang sudah lama Anda pendam. Tuliskan dalam selembar kertas — bukan untuk disimpan, tapi untuk diakui keberadaannya. Mengakui bahwa rindu itu ada adalah langkah pertama sebelum memutuskan apakah akan dikirim atau tidak.
2. Yang Kita Takutkan Jarang Sekali Terjadi
Penelitian Kumar dan Epley dari University of Chicago (2018) yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology: General menemukan sesuatu yang menakjubkan: orang yang menerima pesan tulus dan tiba-tiba dari seseorang yang sudah lama tidak berhubungan, melaporkan perasaan yang jauh lebih positif daripada yang diperkirakan si pengirim. Pengirim merasa canggung, merasa tidak pada tempatnya, merasa pesannya tidak penting. Penerima justru merasa dihargai, tersentuh, dan bahagia.
Kita secara sistematis meremehkan dampak positif dari mengungkapkan perasaan, sekaligus melebih-lebihkan risiko yang mungkin terjadi.
Di sinilah saya teringat kisah seorang tabiin mulia, Hasan Al-Bashri. Suatu hari seseorang bertanya kepadanya: "Wahai Abu Said, apakah engkau merindukan saudaramu yang sudah lama tidak bertemu?" Ia menjawab: "Tentu saja. Dan aku tidak akan menyembunyikan itu karena rinduku adalah bukti bahwa aku masih peduli. Dan kepedulian adalah salah satu dari sedikit hal yang Allah titipkan di hati manusia yang tidak boleh disia-siakan."
Hasan Al-Bashri — sosok yang dikenal dengan kedalaman ilmu dan ketegasan akhlaknya — tidak malu mengakui rindu. Karena ia tahu, rindu yang jujur adalah jembatan, bukan kelemahan.
Para ilmuwan dari Psychological Bulletin menegaskan bahwa kesepian secara sosial setara dengan rasa lapar atau haus secara fisik — ia adalah sinyal biologis yang mendorong manusia untuk kembali terhubung. Menahan sinyal itu sama dengan menahan lapar: semakin lama ditahan, semakin merusak.
Langkah nyata: Pilih satu orang yang sudah lama ingin Anda hubungi tapi selalu Anda tunda. Sebelum menghubungi, tuliskan tiga kekhawatiran Anda. Kemudian tanyakan pada diri sendiri: seberapa sering kekhawatiran serupa benar-benar terjadi? Kemungkinan besar jawabannya: jarang sekali.
3. Mengungkapkan Bukan Tanda Lemah — Tapi Tanda Berani
Ada sebuah kekeliruan budaya yang sudah terlanjur mengakar, terutama pada laki-laki: bahwa mengungkapkan perasaan adalah tanda kerapuhan. "Laki-laki tidak boleh cengeng," kata tradisi. "Jangan baperan," kata generasi meme (konten lucu viral). "Move on aja," kata dunia yang bergerak terlalu cepat.
Padahal justru sebaliknya yang benar. Penelitian dari PMC menemukan bahwa orang yang memiliki skor tinggi dalam kearifan (wisdom) — yang mencakup empati, regulasi emosi, kemampuan merefleksi diri, dan spiritualitas — justru paling tidak kesepian. Bukan orang yang tampak paling kuat dan mandiri. Bukan orang yang paling sering menutup diri. Tapi orang yang paling berani hadir secara emosional.
Mengungkapkan perasaan dengan tulus dan bertanggung jawab bukan berarti memuntahkan semua isi hati kepada sembarang orang di sembarang waktu. Ia adalah keberanian untuk jujur kepada orang yang tepat, di waktu yang tepat, dengan niat yang bersih.
Rasulullah SAW bersabda: "Idza ahabba ahadukum akhahu falyukh-bir-hu annahu yuhibbuh" — "Apabila seseorang di antara kamu mencintai saudaranya, hendaklah ia beritahukan kepadanya bahwa ia mencintainya." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Ini bukan sekadar anjuran sopan santun. Ini adalah perintah eksplisit untuk mengungkapkan — karena Nabi yang mulia tahu bahwa cinta yang hanya tinggal di dalam hati, tidak akan pernah cukup untuk mempererat hubungan.
Seorang sahabat bernama Muadz bin Jabal pernah memegang tangan Rasulullah dan berkata: "Ya Rasulullah, aku mencintaimu karena Allah." Rasulullah menjawab: "Muadz, semoga Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintaiku." Muadz tidak menahan kata-katanya. Dan dari keberanian itu lahirlah sebuah dialog yang diabadikan sepanjang sejarah.
Langkah nyata: Hari ini, sampaikan satu ungkapan tulus kepada seseorang yang berarti bagi Anda — bukan melalui emoji (ikon ekspresi digital) atau pesan singkat satu kalimat, melainkan dengan kata-kata yang betul-betul Anda pilih dengan hati. Bisa kepada pasangan, orang tua, sahabat, atau siapapun yang selama ini hanya Anda cintai dalam diam.
4. Menulis Rindu Adalah Terapi — Bukan Melankoli
Kembali ke buku tulis usang di meja saya tadi. Ternyata kebiasaan itu tidak sepenuhnya salah — hanya belum lengkap. Karena menulis perasaan, bahkan yang tidak dikirim sekalipun, terbukti memiliki dampak terapeutik yang signifikan.
Penelitian landmark dari James Pennebaker (1997) yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Psychology dan terus dikonfirmasi hingga penelitian terbaru (Reinhold et al., 2018 dalam Frontiers in Psychology) membuktikan bahwa expressive writing (menulis ekspresif) — menuangkan perasaan terdalam ke dalam tulisan — secara konsisten menurunkan gejala depresi, meningkatkan fungsi imun, dan memperbaiki kualitas tidur. Tubuh merespons pengungkapan emosi seperti merespons pelepasan beban fisik.
Dalam tradisi Islam, ada konsep muhasabah (introspeksi diri) yang sangat relevan di sini. Umar bin Khattab berkata: "Haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu" — "Introspeksilah diri kalian sebelum kalian dihisab." Muhasabah adalah pengungkapan jujur kepada diri sendiri — mengakui apa yang kita rasakan, mengakui siapa yang kita rindukan, mengakui apa yang belum kita katakan. Bukan untuk diratapi, tapi untuk diselesaikan.
Penelitian konsisten menunjukkan bahwa orang yang kesepian lebih rentan terhadap depresi, kecemasan, dan gangguan suasana hati. Kesepian jangka panjang dapat membuat individu semakin sulit untuk keluar dari lingkaran isolasi dan mencari bantuan. Tapi kuncinya bukan sekadar mencari bantuan dari luar — melainkan dimulai dari keberanian untuk jujur kepada diri sendiri bahwa ada sesuatu yang perlu diungkapkan.
Langkah nyata: Sisihkan sepuluh menit hari ini untuk journaling (menulis jurnal) yang bebas. Tulis tanpa sensor, tanpa rencana, tanpa khawatir dibaca orang lain: siapa yang Anda rindukan hari ini, apa yang ingin Anda katakan kepada mereka, dan mengapa selama ini Anda belum mengatakannya. Anda tidak harus mengirimkan tulisan itu. Tapi anda harus menulis dan jujur.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan sesuatu yang personal.
Bertahun-tahun setelah ayah saya berpulang, saya menemukan kembali buku tulis usang itu dan membaca semua surat-surat yang tidak pernah terkirim. Dan di sana ada surat untuk beliau — panjang sekali, penuh dengan hal-hal yang ingin saya ucapkan tapi tidak sempat, atau lebih tepatnya: tidak berani.
Saat itu saya menangis bukan karena kehilangan, tapi karena menyadari: banyak sekali yang sudah saya katakan kepada kertas, tapi tidak kepada orangnya.
Jadi kalau Anda masih punya seseorang yang bisa Anda hubungi hari ini — orang tua, saudara, sahabat lama, atau siapapun yang namanya tiba-tiba muncul saat Anda membaca ini — jangan tunggu sampai yang tersisa hanya kertas.
Kirimilah rindumu hari ini. Sebelum ia berubah menjadi penyesalan.
Insight utama: Rindu yang tidak diungkapkan bukan tanda keikhlasan — ia adalah beban yang perlahan menggerogoti kesehatan jiwa kita dan merampas kebahagiaan orang yang kita cintai dari hak untuk merasa dicintai.
Aksi sederhana sekarang juga: Buka kontak gawai Anda. Cari satu nama yang membuat hati Anda sedikit berdenyut saat melihatnya. Kirimkan pesan singkat yang tulus — bukan "hai" yang biasa, tapi kalimat yang benar-benar mengatakan apa yang ingin Anda sampaikan. Lakukan sekarang, sebelum halaman ini Anda tutup.
Dan inilah pertanyaan yang saya tinggalkan untuk Anda bawa pulang, direnungkan dalam keheningan sebelum tidur malam ini:
Jika semua rindu yang selama ini Anda pendam tiba-tiba bisa berbicara — kepada siapakah ia pertama kali akan berlari?
Temukan jawabannya — dan kelanjutan percakapan batin kita — di tulisan berikutnya: "Orang Tua Kita Tidak Butuh Kiriman Uang Sebanyak Itu: Mereka Hanya Butuh Suara Kita" — baca hanya di blog ini ya!
Sekarang giliran Anda: pernahkah Anda memendam rindu kepada seseorang begitu lama, sampai ketika akhirnya Anda mengungkapkannya — atau justru terlambat mengungkapkannya — ada sesuatu dalam diri Anda yang berubah selamanya? Tuliskan di kolom komentar. Karena saya yakin, Anda bukan satu-satunya yang pernah merasakannya. Dan cerita Anda bisa menjadi obat bagi orang lain yang sedang berjuang dengan hal yang sama. 🌿
Daftar Pustaka
Al-Bukhari, M. I. (2002). Shahih Al-Bukhari. Dar Ibn Katsir. (Hadis tentang memberitahukan rasa cinta, dirujuk dari HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, Kitab Al-Adab).
Al-Ghazali, A. H. (2014). Ihya' Ulumiddin (Terj. Moh. Zuhri et al.). Asy-Syifa Press.
Cacioppo, J. T., & Patrick, W. (2008). Loneliness: Human Nature and the Need for Social Connection. W.W. Norton & Company.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Health effects of social isolation and loneliness. Diakses dari https://www.cdc.gov/social-connectedness
Hawkley, L. C., & Cacioppo, J. T. (2010). Loneliness matters: A theoretical and empirical review of consequences and mechanisms. Annals of Behavioral Medicine, 40(2), 218–227.
Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., & Layton, J. B. (2010). Social relationships and mortality risk: A meta-analytic review. PLOS Medicine, 7(7), e1000316.
Jeste, D. V. (2024). Battling the modern behavioral epidemic of loneliness: Suggestions for research and interventions. JAMA Psychiatry, 81(8), 846.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur'an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. (QS. Al-Isra': 36).
Kumar, A., & Epley, N. (2018). Undervaluing gratitude: Expressers misunderstand the consequences of showing appreciation. Psychological Science, 29(9), 1423–1435.
Pennebaker, J. W. (1997). Writing about emotional experiences as a therapeutic process. Psychological Science, 8(3), 162–166.
Reinhold, M., Bürkner, P. C., & Holling, H. (2018). Effects of expressive writing on depressive symptoms: A meta-analysis. Clinical Psychology: Science and Practice, 25(1), e12224.
UC Health. (2024, May 30). The loneliness epidemic: Escaping post-pandemic social isolation. Diakses dari https://www.uchealth.com
U.S. Surgeon General. (2023). Our epidemic of loneliness and isolation: The U.S. Surgeon General's advisory on the healing effects of social connection and community. U.S. Department of Health and Human Services.
Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.
Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.






