Arda Publishing
Arda Dinata
Arda Dinata
Arda Dinata adalah penulis storytelling religius yang dikenal dengan gaya penulisannya yang lembut, empatik, dan tidak menggurui. Dengan pengalaman menulis ratusan ribu konten inspiratif yang menyentuh pembaca.

🌐 Jaringan Blog Arda Dinata
Logo Buku dan Novel Inspiratif Online
Temukan lebih banyak
Memuat daftar buku...
Silaturahmi Itu Bukan Acara Tahunan: Ketika Cinta Tidak Mengenal Kalender
Arda Dinata
Dilihat ... Bab

📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!

Silaturahmi yang sejati bukan yang paling ramai acaranya, melainkan yang paling konsisten praktiknya — hadir bukan hanya ketika ada momentum, tapi justru ketika tidak ada momentum apapun selain rasa cinta yang memilih untuk tidak tinggal diam. (Sumber foto: Arda Dinata).

Oleh: Arda Dinata

FEATURE - Di sudut ruang tamu yang sudah mulai lengang setelah seminggu penuh tamu berdatangan, ada sepiring kue nastar yang tinggal setengah. Toples kacang sudah kosong. Kursi-kursi yang tadi berjejer rapi kini sudah kembali ke sudut semula. Dan ibu — ibu yang tadi senyumnya tidak pernah padam selama seminggu menyambut siapa saja yang datang — kini duduk sendiri, menatap pintu yang sudah tertutup.

Bukan sedih. Bukan juga kecewa. Tapi ada sesuatu yang menggantung di matanya — semacam pertanyaan yang tidak sempat ia ucapkan selama tujuh hari tamu silih berganti: "Apakah mereka akan kembali sebelum Lebaran tahun depan?"

Saya kira banyak di antara kita yang pernah menjadi tamu itu. Yang datang setahun sekali. Yang menjanjikan "nanti kita ketemuan lagi ya" tapi tahu dalam hati bahwa "nanti" itu belum tentu datang sebelum ketupat kembali tersaji. Dan tanpa kita sadari, kita telah mengubah salah satu perintah paling agung dalam Islam — silaturahmi — menjadi sekadar agenda tahunan yang diselipkan di antara libur panjang dan tiket kereta yang susah payah dipesan.

Tradisi halalbihalal (saling menghalalkan, saling memaafkan) pasca Lebaran 2026 kembali ramai, menjadi momen mempererat relasi sosial dan profesional. Sejumlah instansi dan komunitas mulai menjadwalkan kegiatan ini pada pekan pertama setelah libur Lebaran, dalam format yang beragam — dari pertemuan sederhana hingga acara formal.

Bagus. Tapi pertanyaannya bukan seberapa ramai acaranya. Pertanyaannya: apakah kita benar-benar hadir di sana? Dan lebih dalam lagi — apakah kita akan tetap hadir ketika tidak ada agenda, tidak ada ketupat, tidak ada momen?


Ada yang aneh dari cara kita memperlakukan silaturahmi dewasa ini. Kita menjadikannya event (acara), padahal ia adalah way of life (cara hidup). Kita menjadikannya momen foto bersama dan unggahan Instagram, padahal ia adalah denyut yang seharusnya mengalir terus menerus dalam keseharian. Kita menunggu Lebaran untuk meminta maaf, padahal luka sudah bernanah sejak sebelas bulan lalu.

Dan yang lebih mengkhawatirkan: momen Lebaran kini kerap dijadikan ajang perbandingan — siapa yang paling sukses, sudah menikah belum, sudah punya anak berapa, kerja di mana. Tidak jarang orang justru merasa cemas saat menjelang Lebaran, bahkan memilih tidak hadir dalam kumpul keluarga karena tekanan pertanyaan-pertanyaan itu.

Kita sedang membangun sebuah paradoks yang menyakitkan: semakin banyak pertemuan, semakin sedikit kedekatan. Semakin ramai acaranya, semakin sunyi jiwanya.

Lalu di manakah silaturahmi yang sesungguhnya?

Saya percaya bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak ada di gedung mewah tempat halalbihalal digelar. Ia ada di keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap hari — menelepon ibu bukan karena ada keperluan, mengunjungi tetangga bukan karena ada hajatan, mengirim pesan kepada teman lama bukan karena ingin meminta tolong.

Cinta, jika betul-betul cinta, tidak mengenal kalender.


1. Silaturahmi Adalah Obat — Bukan Sekadar Basa-basi

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemaafan dan silaturahmi berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan mental, termasuk dalam membangun hubungan yang lebih sehat dan mengurangi beban emosi negatif. Penelitian yang dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Islamic Counseling (2021) mengungkapkan bahwa individu yang mampu memaafkan cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih stabil dan harmonis.

Ini bukan puisi. Ini sains.

Ketika kita menjaga tali silaturahmi, tubuh kita secara harfiah berterima kasih. Berdasarkan studi dari Harvard Health, melepaskan emosi negatif melalui pemaafan secara signifikan menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kualitas tidur. Kortisol — hormon stres yang menjadi biang keladi berbagai penyakit degeneratif — turun kadarnya ketika kita melepaskan dendam dan memperluas lingkaran kasih kita.

Rasulullah SAW bersabda: "Man ahabba an yubsatha lahu fii rizqihi wa yunsa'a lahu fii ajalih, falyashil rahimah" — "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim). Sudah berabad-abad sebelum ilmu kedokteran membuktikannya, wahyu sudah lebih dulu mengabarkan: menjaga hubungan itu memperpanjang hidup.

Dan ada kisah yang tidak pernah bosan saya ceritakan. Suatu hari, Abdullah bin Abbas — sepupu Rasulullah, lautan ilmu yang digelari Turjumanul Qur'an (Penafsir Al-Qur'an) — melakukan perjalanan jauh hanya untuk mengunjungi seorang saudaranya yang sedang sakit. Padahal ia tahu perjalanan itu melelahkan, dan ada banyak hal lain yang menunggu. Ketika ditanya mengapa ia datang jauh-jauh, ia menjawab dengan tenang: "Karena silaturahmi adalah hak yang harus ditunaikan, bukan kemurahan hati yang bisa ditunda."

Hak. Bukan anugerah. Hak.

Langkah nyata: Pilih satu nama dari kontak gawai Anda — seseorang yang sudah lebih dari tiga bulan tidak Anda sapa. Hubungi sekarang. Bukan karena ada keperluan. Justru karena tidak ada keperluan selain rindu yang perlu diakui.


2. Hablum Minannas (Hubungan Antar Manusia) Itu Ibadah Sepanjang Tahun, Bukan Musiman

Sejarah mencatat bahwa tradisi halalbihalal dipopulerkan sekitar tahun 1948. Pasca kemerdekaan Indonesia, saat negara mengalami pergolakan politik, Presiden Soekarno berkonsultasi dengan KH Abdul Wahab Chasbullah. Sang kiai menyarankan forum silaturahmi di hari raya Idul Fitri yang diberi nama halalbihalal — secara psikologis mengajak pihak yang bertikai untuk saling menghalalkan atau memaafkan demi persatuan bangsa.

Luar biasa. Nenek moyang kita menjadikan silaturahmi sebagai instrumen perdamaian bangsa, bukan sekadar ritual sosial. Namun di tangan generasi berikutnya, instrumen yang agung itu perlahan menyusut menjadi sekedar agenda seremonial dengan kursi plastik berjajar dan nasi kotak yang dimakan bergegas.

Al-Qur'an sangat tegas soal ini. Allah berfirman: "Wattaqullaahalladhii tasaa'aluuna bihi wal arham, innallaaha kaana 'alaikum raqiibaa" — "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS. An-Nisa': 1). Ayat ini tidak menyebutkan "satu kali setahun". Ia berbicara tentang pengawasan Allah yang terus menerus — raqiibaa — selalu mengawasi, setiap saat.

Penelitian dalam Journal of Health and Social Behavior (Umberson & Montez, 2010) menemukan bahwa kualitas dan frekuensi hubungan sosial yang bermakna berkorelasi langsung dengan sistem imun yang lebih kuat, risiko depresi yang lebih rendah, dan tingkat kematian yang lebih rendah secara signifikan. Manusia yang terhubung secara tulus — bukan sekadar terhubung secara digital — hidup lebih lama dan lebih bahagia.

Tapi di sinilah paradoks era kita: kita lebih banyak punya followers (pengikut) daripada sahabat. Lebih banyak punya kontak tersimpan daripada orang yang benar-benar tahu keadaan kita. Lebih fasih mengetik "semoga sehat selalu" daripada datang menjenguk ketika ada yang sakit.

Langkah nyata: Buat daftar sederhana — lima orang yang paling berarti dalam hidup Anda. Tuliskan kapan terakhir Anda benar-benar hadir untuk mereka, bukan sekadar mengirim pesan. Jadwalkan satu pertemuan nyata bulan ini — minum kopi bersama, makan siang, atau sekadar duduk di teras sambil ngobrol tanpa agenda. Kehadiran fisik itu tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun.


3. Memaafkan Adalah Keberanian, Bukan Kelemahan

Di balik riuhnya halalbihalal dan hangatnya jabat tangan Lebaran, ada sesuatu yang sering kita lakukan secara mekanis tanpa benar-benar merasakannya: meminta maaf dan memberi maaf.

Kita berkata "maaf lahir dan batin" kepada puluhan orang dalam satu hari — kepada orang yang memang tidak pernah menyakiti kita, kepada orang yang sudah kita maafkan lama-lama, bahkan kepada orang yang kesalahannya masih terasa perih di dalam dada tapi belum sempat kita proses.

Memendam amarah atau konflik dapat meningkatkan hormon kortisol yang berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik. Kemampuan untuk tidak membalas dendam dan memilih berdamai dengan pengalaman pahit terbukti dapat memulihkan hubungan yang retak sekaligus meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Memaafkan itu bukan soal menghapus kenangan. Ia adalah soal memilih untuk tidak membiarkan masa lalu meracuni masa depan. Dan ini membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar dari sekadar mengucapkan dua kata di hari raya.

Ada seorang tabiin agung bernama Uwais Al-Qarni — sosok yang disebut Rasulullah SAW dalam hadisnya jauh sebelum Uwais pernah bertemu beliau — yang hidupnya adalah kesempurnaan dari konsep silm (damai, keselamatan). Uwais tidak terkenal di zamannya. Tidak punya pengikut ramai. Tapi ia menjaga hubungan dengan ibunya dengan pengabdian yang melampaui batas lazim — tidak pernah meninggalkan ibunya sendirian kecuali ada keperluan mendesak. Ketika ditanya tentang rahasianya, ia hanya menjawab: "Cinta tidak butuh alasan untuk hadir. Ia hanya butuh keputusan untuk tidak pergi."

Memaafkan secara tulus — bukan memaafkan karena tuntutan momen, tapi karena jiwa yang betul-betul melepaskan bebannya — adalah salah satu bentuk keberanian tertinggi yang bisa dilakukan seorang manusia.

Langkah nyata: Pilih satu konflik yang masih mengganjal — dengan saudara, dengan teman lama, dengan rekan kerja. Bukan untuk diungkit, tapi untuk diselesaikan. Tuliskan surat — tidak perlu dikirim jika belum siap — yang mengungkapkan apa yang Anda rasakan dan apa yang ingin Anda lepaskan. Proses itu sendiri sudah merupakan permulaan penyembuhan.


4. Teknologi Boleh Membantu, tapi Pelukan Tidak Bisa Di-forward

Psikolog dari IPB University menegaskan pentingnya tetap menjaga tali silaturahmi sekalipun secara virtual — menghubungi orang yang disayangi, melakukan panggilan video meski hanya sebentar. Yang terpenting, jangan memendam semuanya sendirian.

Saya setuju. Teknologi adalah jembatan yang sangat berharga, terutama bagi mereka yang terpisah jarak dan waktu. Tapi jembatan bukan tujuan akhir — ia hanya penghubung. Dan ada hal-hal yang tidak bisa dihantarkan oleh jembatan itu: kehangatan genggaman tangan, tatapan mata yang berkata "aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja", atau kehadiran diam yang menemani tanpa perlu satu kata pun.

Sebuah studi penting dari PLOS ONE (Sato et al., 2021) menemukan bahwa interaksi tatap muka memicu pelepasan oksitosin — hormon ikatan sosial — jauh lebih kuat dibanding komunikasi digital. Otak kita, yang dirancang untuk membaca ekspresi wajah, gestur tubuh, dan nada suara secara tiga dimensi, tidak bisa sepenuhnya puas dengan layar dua dimensi seberapapun resolusinya.

Inilah yang membuat tradisi halalbihalal — dengan segala kekurangan seremonialnya — tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan: manusia berkumpul di ruang yang sama, menghirup udara yang sama, tertawa dalam frekuensi yang sama. Di antara jabat tangan dan meja makan, selalu ada cerita yang diperbarui — tentang keluarga yang kembali bertemu, rekan yang akhirnya punya waktu untuk duduk bersama, komunitas yang merajut kembali kedekatan setelah kesibukan panjang.

Tapi sekali lagi — jangan biarkan itu hanya terjadi sekali setahun.

Langkah nyata: Tetapkan satu hari dalam sebulan — boleh tanggal berapa saja — sebagai "Hari Hadir" pribadi Anda. Di hari itu, putuskan satu hubungan yang akan Anda rawat secara fisik: kunjungi, temui, duduk bersama. Tidak perlu acara besar. Tidak perlu biaya mahal. Hanya kehadiran — yang ternyata adalah pemberian paling mewah yang bisa kita berikan kepada seseorang.


Maka inilah yang sesungguhnya ingin saya sampaikan, kepada diri saya sendiri sebelum kepada siapapun:

Silaturahmi bukan tentang seberapa banyak jabat tangan yang kita lakukan di hari raya. Ia adalah tentang seberapa banyak hati yang kita jaga sepanjang tahun. Ia adalah keputusan kecil yang dibuat setiap hari — untuk menelepon, untuk menengok, untuk mendengar, untuk hadir.

Cinta tidak mengenal kalender. Yang mengenal kalender hanyalah kemalasan kita untuk mengekspresikannya.

"Man qatha'a rahiman lam yadkhulil jannah" — "Siapa yang memutus tali silaturahmi tidak akan masuk surga." (HR. Bukhari). Keras. Tegas. Tapi di balik kerasnya ancaman itu, ada kelembutan yang tak terkira: betapa berharganya setiap hubungan manusia di mata Allah, hingga memutusnya saja sudah menjadi perkara yang begitu serius.

Insight utama: Silaturahmi yang sejati bukan yang paling ramai acaranya, melainkan yang paling konsisten praktiknya — hadir bukan hanya ketika ada momentum, tapi justru ketika tidak ada momentum apapun selain rasa cinta yang memilih untuk tidak tinggal diam.

Aksi sederhana hari ini: Sebelum hari ini berakhir, hubungi satu orang yang sudah lama tidak Anda sapa — bukan dengan pesan singkat, tapi dengan suara. Tanyakan kabarnya. Dengarkan hingga tuntas. Itu saja. Kadang, itulah silaturahmi yang paling dibutuhkan seseorang.


Tapi saya ingin menutup dengan sebuah pertanyaan yang mungkin tidak nyaman — dan memang dimaksudkan untuk tidak nyaman:

Jika hari ini adalah hari terakhir seseorang yang Anda cintai, apakah hubungan Anda dengan mereka dalam kondisi yang ingin Anda bawa sebagai kenangan seumur hidup?

Kalau jawabannya belum, maka tidak ada waktu yang lebih tepat dari sekarang.

Dan inilah yang mengantar kita ke pertanyaan berikutnya — yang mungkin jauh lebih membumi tapi sama dalamnya: bagaimana kita menjaga cinta itu ketika jarak memisahkan, ketika kesibukan menggerogoti, ketika rutinitas mematikan kepekaan? Temukan jawabannya di tulisan berikutnya: "Rindu yang Tidak Dikirim: Mengapa Kita Lebih Mudah Memendam daripada Mengungkapkan" — baca hanya di blog ini ya!

Sekarang giliran Anda: pernahkah Anda menyesal karena terlambat menjaga silaturahmi dengan seseorang — dan baru menyadarinya ketika sudah terlambat? Atau adakah hubungan yang masih ingin Anda perbaiki, tapi belum tahu harus mulai dari mana? Bagikan di kolom komentar — karena saya yakin, cerita Anda bisa menjadi cermin penyembuh bagi orang lain yang membaca tulisan ini. 🌿


Daftar Pustaka

Al-Bukhari, M. I. (2002). Shahih Al-Bukhari. Dar Ibn Katsir. (Hadis tentang silaturahmi memperpanjang umur, Kitab Al-Adab, No. 5985; dan hadis tentang memutus silaturahmi, Kitab Al-Adab, No. 5984).

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur'an dan Terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. (QS. An-Nisa': 1; QS. Al-Ma'idah: 2).

Nur Islamiah, M., & Tim Psikolog IPB University. (2026). Tips menjaga kesehatan mental saat Lebaran. Laman Resmi IPB University, 17 Maret 2026.

Sato, W., Kochiyama, T., Uono, S., Yoshikawa, S., & Toichi, M. (2021). Oxytocin release during face-to-face social interaction: Evidence from ecological validity studies. PLOS ONE, 16(3), e0248821.

Umberson, D., & Montez, J. K. (2010). Social relationships and health: A flashpoint for health policy. Journal of Health and Social Behavior, 51(Suppl), S54–S66.

Pendidikan Matematika FMIPA UNESA. (2026). Apa itu halal bihalal? Pengertian, sejarah, tujuan, dan tradisi di Indonesia. Portal Akademik UNESA. Diakses 31 Maret 2026.

Arina.id. (2026). Sesuai tradisi Lebaran, pemaafan tingkatkan kesejahteraan psikologis dan menguatkan kesehatan mental. Diakses 31 Maret 2026, dari https://www.arina.id

Travelounge.co. (2026, 26 Maret). Halalbihalal pasca Lebaran 2026 kembali ramai, jadi momen pererat relasi. Diakses 31 Maret 2026, dari https://travelounge.co

Jangan ragu untuk memberikan komentar di bawah ini dan mengikuti kami di saluran WhatsApp "ProduktifMenulis.com (Group)" dengan klik link ini: WhatsApp ProduktifMenulis.com (Group) untuk mendapatkan info terbaru dari website ini.

Arda Dinata adalah Penulis di Berbagai Media Online dan Penulis Buku, Aktivitas Kesehariannya Membaca dan Menulis, Tinggal di Pangandaran - Jawa Barat.

www.ArdaDinata.com:  | Share, Reference & Education |
| Sumber Berbagi Inspirasi, Ilmu, dan Motivasi Sukses |
Twitter: @ardadinata 
Instagram: @arda.dinata
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Nyamuk
Bersahabat Dengan Nyamuk
Beli / Baca
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Rahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / Baca
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Membongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / Baca
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Pendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / Baca
Bersahabat Dengan Malaria
Bersahabat Dengan Malaria
Beli / Baca
Atasi Penyakit Skabies
Atasi Penyakit Skabies
Beli / Baca
Sanitasi Atasi Stunting
Sanitasi Atasi Stunting
Beli / Baca
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Rahasia Kimia Cinta
Rahasia Kimia Cinta
Beli / Baca
Kesehatan Ibu dan Anak
Kesehatan Ibu & Anak
Beli / Baca
Menguasai Kecerdasan Buatan AI Untuk Pemula
Menguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / Baca
SMART Sanitation
SMART Sanitation
Beli / Baca
Pola Makan Sehat di Era Digital
Pola Makan Sehat di Era Digital
Beli / Baca
Dunia Sanitasi Lingkungan
Dunia Sanitasi Lingkungan
Beli / Baca
Manusia dan Lingkungan
Manusia dan Lingkungan
Beli / Baca
Kepemimpinan dan Komunikasi Dalam Manajemen Proyek
Kepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / Baca
Keperawatan Jiwa
Keperawatan Jiwa
Beli / Baca
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Dasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / Baca
Kesehatan Alat Makan
Kesehatan Alat Makan
Beli / Baca
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Produktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / Baca
Mindmap Penulisan Buku
Mindmap Penulisan Buku
Beli / Baca
Menjadi Penulis Mandiri
Menjadi Penulis Mandiri
Beli / Baca
Strategi Produktif Menulis
Strategi Produktif Menulis
Beli / Baca
Creative Writing dan Writerpreneurship
Creative Writing & Writerpreneurship
Beli / Baca
Membangun Keluarga Berkualitas
Membangun Keluarga Berkualitas
Beli / Baca
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Kebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / Baca
Keluarga Penuh Cinta
Keluarga Penuh Cinta
Beli / Baca
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Melapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / Baca
Pernikahan Berkalung Pahala
Pernikahan Berkalung Pahala
Beli / Baca
Mengikat Cinta Kasih
Mengikat Cinta Kasih
Beli / Baca
Surga Perkawinan
Surga Perkawinan
Beli / Baca
Ibu Cinta Yang Tak Berbatas
Ibu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / Baca
Ayahku Guruku Guru Kami
Ayahku, Guruku, Guru Kami
Beli / Baca
Cerdas dan Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Cerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / Baca
RETAKAN
RETAKAN
Beli / Baca
Pecahan Cinta
Pecahan Cinta
Beli / Baca
Whispers of the Sunset
Whispers of the Sunset
Beli / Baca
Epos Aurora Petualangan di Alam Semesta
Epos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / Baca
Melangkah Dalam Cahaya Prinsip Hidup Ala Rasulullah
Melangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / Baca
Menjadi Orang Bahagia
Menjadi Orang Bahagia
Beli / Baca
Merajut Cinta Allah
Merajut Cinta Allah
Beli / Baca
Pemberdayaan Majelis Taklim
Pemberdayaan Majelis Taklim
Beli / Baca
Bermesraan Dengan Kebaikan
Bermesraan Dengan Kebaikan
Beli / Baca
Dear Friend
Dear Friend
Beli / Baca
Taman-Taman Kebeningan Hati
Taman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca